Berbakti Kepada Orang Tua dalam Kacamata Ketaatan

parents-730x400

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.

Orang itu bersenandung, Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?”
Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Ahmad)

Bagaimana jika pemahaman orang tua kita terhadap islam masih minim? Tentu belajarlah dari Mushab bin Umair ra. Ia adalah pemuda yang tetap lemah lembut kepada orang tuanya, tapi tatkala dalam perkara ketaatan kepada islam, ia menolak seruan orang tuanya dalam kemaksiatan. Tapi hatinya tetaplah lembut.

Kepada ibu, curhatannya tentang hidup itu mengasyikkan. Usianya tak lagi muda. Hampir mendekati usia Rasulullah saw dalam wafatnya. Salah satu hal yang tak bisa saya pungkiri, jika beliau bertanya, hendak ke mana, agenda apa minggu ini, saya perlu jawab jujur. Karena, biasanya orang tua akan mengalirkan doa-doa yang bisa jadi mengalir ke langit-langit, hingga butiran-butiran ampunan-Nya turun. Apalagi demi keselamatan, itu yang terpenting.

Sebab, jasa tak bisa kita balas sedikit pun. Siapa tahu, doa adalah jalan balas kebaikannya, agar kelak ia masuk surga bersama kita.

Terkadang kita sebagai anak memang sulit untuk menjalankan perintah orang tua, ataupun menurutinya. Karena kita terlalu sibuk memikirkan urusan pribadi kita masing-masing, seakan merasa lupa bagaimana beratnya perjuangan orang tua kita yang berusaha dengan sekuat tenaga membantu kita untuk mencapai cita-cita yang memang kita impikan. Ataupun orang tua kita berusaha agar anaknya tidak memiliki nasib seperti mereka. Yukkkk coba renungin lagi sudah sejauh apa kita membuat bangga orang tua kita, sudah sebesar apa pengorbanan yang kita lakukan untuk orang tua kita. 

Sumber Al-faqir,
Rizqi Awal.

Advertisements
By septiiaann Posted in Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s